Terimakasih
anut runtut tansah reruntungan
munggah mudhun gunung anjok samudero
gandeng rendeng anjejereng rendeng
reroncening kembang… kembang temanten
mantene wus dandan dadi dewo dewi
dewaning asmoro gyo mudhun bumii
e la mendhung… bubar mawur
mlipir mlipir… gyo sumingkir
mahargyo dalan temanten… dalane dewo dewi
sworo trompet… teng celeret
arak arak sigo sigrak
datan kendhat… anut runtut
gyo mudhun bumi
(Anyam-anyaman - Sujiwo Tejo)
Lirik ini kiriman dari teman dekatku sebagai ucapan selamat atas undangan pernikahanku tanggal 7 Juni yang lalu.
Alhamdulillah, acara pernikahanku dengan Diajeng Roro Genduk berjalan lancar tanpa ada gangguan brarti. Banyak keluarga, teman dan relasi yang menghadiri pernikahan kami. Gangguan kecil yang terjadi adalah ‘oglangan’ atau jatah matinya listrik di lokasi acara (Grha Sabha Buwana) dan Hotel Prasasti didepannya. Jatah ini berlaku mulai pukul 08.00 s.d 16.00. Skitar jam 12 calon istriku saat itu sms kalo harus berdandan di luar kamar rias karena kurang pencahaan. Syukur ada genset yang cukup membantu persiapan di GSB (lokasi akad & resepsi).
Akad nikah terlaksana sesuai rencana pada pukul 16.00. Sempat deg-deg.an ketika perjalanan menuju ke lokasi akad, yang cuma nyeberang jalan :). Rasa deg-deg.an hilang saat acara penerimaan dimulai, ketika juru bicara & wali nikahku diterima oleh wali nikah & orang tua mempelai perempuan. Rasa nyaman justru berasa saat pertama kalinya lampu kamera, blitz/flash dan kamera mengarah padaku. Saat itu aku cuma membayangkan diriku yang disana, memotret berlangsungnya acara disitu :). Cara itu ternyata cukup menyenangkan.
Ijab qabul berlangsung dengan baik. Ketika silau lampu2 kamera mengarah ke meja tempat berlangsung akad, sejak saat itu pula yang aku pikirkan, yaitu wali nikah & bapak mempelai wanita didepanku, saksi mempelai pria & wanita di sisi kiri, dan mempelai wanita di sampingku. Entah siapa & apa saja saja yang ada di belakang lampu2 itu, yang aku lihat hanya gelap. Hal ini pula yang membuatku dapat fokus selama acara dan hanya berdoa kepada-Nya yang membuat semua ini nyata.
Tenang dan damai rasanya saat mengucap qabul : ‘Saya terima nikahnya Sdri. Ilma Pratidina Suryandari binti Tedjo Pranoto Dharmo, dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang senilai Rp 76.008 dibayar tunai‘.
Sesaat setelah itu, ucapan ’sah’ dari wali nikah & saksi, berlanjut ucapan syukur Alhamdulillahirabbil ‘alamiin menggema di ruangan itu berasa sangat melegakan.
Terimakasih kami ucapkan kepada segenap keluarga, rekan dan panitia yang telah membantu peristiwa bersejarah ini berjalan lancar.
PS.
Semoga diri ini masih sanggup menghidupi blog ala kadarnya ini hingga waktunya nanti pengalaman ini bisa dibaca kembali bersama anak cucu nanti, amien :p
# dan semoga web host-nya gak tutup ![]()

Selamat Ya Nop..Moga bahagia selamanya..berdua mampu berdampingan meniti jalan menuju surga..Doakan aku cepet nyusul..hehehe
[Reply]
Amien… nuwun Fath, ya moga-moga lek ndang nyusul, ben tenang le ngibadah
btw, untung ora mendung, ora bubar mawur… mung listrik mati :p
[Reply]
[Reply]